Yukova Nathaniel

Anakku Karunia Besar Dari Tuhan

Cermin

Cermin sejak penemuannya menjadi alat yang cukup penting bagi
manusia. Setiap manusia membutuhkan cermin untuk mematutkan diri.
Hampir dapat dipastikan tidak ada satu pun orang yang berangkat kerja
tanpa terlebih dahulu bercermin. Entah untuk melihat apakah rambut
mereka telah rapi ataupun hanya untuk sekedar memastikan kembali
bedak yang digunakan di wajah tidaklah terlalu tebal.

Sebagai orang percaya sesungguhnya kita pun memerlukan “cermin” untuk
mematutkan hidup kita. Apakah kita telah bertindak, berkata dan
berlaku benar di hadapan Tuhan? Apakah kita telah berkenan atau
justru mendukakan hati Tuhan dengan berbuat dosa? Tidak mudah bagi
kebanyakan orang percaya untuk menerima kenyataan bahwa mereka telah
melakukan dosa di hadapan Tuhan. Mereka tahu dosa adalah kebencian
Tuhan dan mereka mau hidup mereka bersih di hadapan Tuhan.

Sayangnya “cermin” mereka adalah kebenaran diri sendiri. Kebenaran
diri sendiri menurut firman Tuhan bagai kain kotor (Yesaya 64:6).
Kain yang tidak dapat digunakan lagi untuk membersihkan. Setiap benda
yang tersentuh kain kotor justru menjadi kotor. Kebenaran diri
sendiri adalah kebenaran palsu, kebenaran diri sendiri adalah cermin
kotor. Ketika mereka bercermin kepada kebenaran diri sendiri, mereka
sangka hidup mereka telah bersih. Padahal sama sekali tidak bersih.

Kita membutuhkan cermin yang sesungguhnya. Cermin yang bersih
sehingga dapat dijadikan alat untuk mematut hidup kita. Yang pasti
cermin itu bukanlah kebenaran diri sendiri. Cermin itu adalah firman
Tuhan. Dan firman Tuhan itu tidak sekedar cermin kita tetapi juga
adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Mazmur
119:105). Jadi bercerminlah padqa firman Tuhan!

sumber : milis tetangga

Leave a Response