Yukova Nathaniel

Anakku Karunia Besar Dari Tuhan

Nathan Karya Kasih Kristus

Dear Rekan Yang Terkasih

Terima kasih atas dukungan terlebih DOA rekan-rekan yang menghiburkan, menguatkan & menopang kami yang saat ini berada dalam kondisi kedukaan atas kepergian anak kami satu-satu-nya yang kami kasihi untuk menghadap Bapa-nya didalam surga. Dia yang dalam ukuran manusia hanya dipandang sebelah mata tetapi begitu besar dan dasyatnya Tuhan menggunakan anak itu untuk mengajarkan saya begitu banyak hal tentang keindahan Karya Kasih Allah Bapa.

Ayah & Nathaniel - Kereta Madium-Surabaya

Ayah & Nathaniel – Kereta Madium-Surabaya

Karya kasih Allah Bapa sungguh nyata dalam kehidupan yang saya rasakan & sebagai ayah saya merasakan betapa banyak tak terhingga kasih karunia yang dicurahkan Bapa terhadap saya secara pribadi. Sedikit flashback mengenai saya “Ayah Nathaniel” seorang anak yang merupakan anugerah bagi saya:

Pada mulanya saya adalah seorang buta, walaupun saya dilahirkan & dibesarkan dari orang tua yg percaya akan Kristus namun  semua tidak lebih karena “kutukan”. Segala ritual  mingguan, ibadah gerakan pemuda, pelayanan adalah kutukan karena saya dibesarkan dalam lingkungan kristen sampai pada akhirnya saya pergi meninggalkan semuanya itu dan kesombongan menguasai saya. Delapan tahun saya meninggalkan semuanya itu  & tidak mau menerima kutukan yang dulu saya anggap sebagai rutinitas sampai pada akhirnya saya mengalami kejadian yang begitu beratnya saat itu.

Ketika prioritas hidup salah, menggantungkan diri pada sesuatu yang  bisa mengecewakan maka yang akan  kita dapatkan adalah kekecewaan, itulah yang saya hadapi. Kesedihan, tanggisan, keputus-asaan, bahkan rela untuk meninggalkan Bapa demi sesuatu yang saat ini saya sadari bodoh saat itu rela saya lakukan. Namun saya bersyukur karena bukan saya yang mencari Bapa, namun Dia sendiri yang mencari saya. Hingga pada akhirnya saya dapat melewati semua itu dengan sukacita dan hikmat yang saya dapatkan adalah memahami arti cinta  “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)”.  Tapi terus terang saya hanya sanggup memahami arti Kasih Allah sebatas kulitnya saja, saya masih belum mampu mengerti begitu besar kasih-Nya bagi manusia yang begitu besarnya.

Kehidupan terus berjalan hingga Tuhan karuniakan bagi saya seorang pendamping hidup “Made Putri Ayunita”, Ibu dari anak saya “Nathaniel”. Ibu Nathan saat itu tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sungguh berbeda, dia ditinggalkan oleh ibu-nya sejak kecil dan dibesarkan single-parent yang  keras. Saya mengerti dan memahami ketika saya berkomitmen untuk bersama pasti akan banyak hal yang berat. Satu hal yang saya percaya adalah jika memang ini Rancangan Allah-Bapa maka Dia sendiri yang akan memampukan saya melewati semuanya. Kebersamaan berdua tidaklah lama berlajut karena Tuhan karuniakan kami sebuah benih kehidupan dalam kandungan istri saya. Ungkapan syukur tidak hentinya kami panjatkan. Kebahagiaan & harapan tumbuh dan saat itu saya mengharapkan “Nathaniel” untuk menjadi seorang yang berharga bagi yang lain, berkarya demi yang lain namun biarlah bukan dia yang terlihat tetapi Bapa yang menyertai dia.

Nama Yukova adalah manipulasi kata dari seorang yang berjasa dalam dunia internet   “Yakov Rekhter”..  Mungkin tidak banyak yang mengenai Yakov, tapi yang pasti begitu banyak orang saat ini yang menggunakan apa yang pernah dipikirkan-didesign-dibuat oleh Yakov Rekhter. Itulah yang menjadi dasar saya memberi nama “Yukova” + Krisna nama pemisah yang adalah bagian dari nama ayahnya + “Nathaniel” yang berarti Hadiah Dari Tuhan. Kalau nama tersebut digabungkan? Malah itu sama sekali tidak saya pikirkan untuk menggabungkan artinya.

Sebelum dilahirkan pada 05 Juli 2008 kalau tidak salah saat 7 bulan usia kandungan, Ibu Nathan sempat mengalami pendarahan yang lumayan banyak. Saat itu kekawatiran muncul apakah anak saya akan selamat? Ibunya dalam hati berkomunikasi dengan sikecil dan sebelum pergi untuk diperiksa Ibu sudah tahu kalau Nathan masih ada. Hari berlalu akhirnya Nathan lahir normal, saat persalinan saya sendiri ikut menunggu didalam hingga bisa membisikan doa pada Nathaniel. Ungkapan sykur dan kegembiraan keluarga terpancar begitu indahnya hingga pada saatnya Nathan imunisasi BCG. Dalam tulisan sebelumnya sudah saya tuliskan mengenai apa yang saya alami “Selamat Jalan Nathan Part 1″.

Penghiburan datang dari beberapa teman, orang tua dan orang lain. Ada yg bilang “Anak itu titipan Tuhan… kita harus menjaganya”… Ada yang bilang lagi “Kalian adalah orang tua yang hebat itu sebabnya kalian diberi anugerah anak yang luar biasa” dan ada banyak yang lain. Ah itu hanya “kata” yang menguatkan tapi selama hati tidak berdamai dengan semua itu penghiburan hanyalah penghiburan yang berlalu tanpa arti.

“Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.  Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi,  siapakah yang berbuat dosa,  orang ini sendiri atau orang tuanya,  sehingga ia dilahirkan buta?”  Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:1-3)

Ibu & Nathan - Bali 2011

Ibu & Nathan – Bali 2011

Pada awalnya kami merasakan hal yang sama, apa kesalahan kami sehingga kami diberi anak yang “Istimewa” namun  dalam masalah waktu dan penghiburan yang memang Tuhan berikan lewat kejadian-kejadian bersama anak kami yang akhirnya menguatkan kami. Sebagai ayah saya bangga diberi kesempatan untuk bisa  menjadi orang tua Nathan, kasih menjadi nyata dalam hidup keluarga oleh hadirnya Nathan seorang anak Down Syndrome yang berhak atas curahan kasih kami orang tua-nya.  Yang dapat saya ambil dalam kebersamaan kami bersama dengan Nathan saat awal-awal vonis Down-Syndrome adalah pengertian dan contoh nyata  Buah Roh “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera,  kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.  Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Galatia 5:22-24)”  & sebenarnya banyak hal yang lain yang saya secara pribadi pelajari dalam kehidupan bersama anak kami yang mungkin akan saya tuliskan kelak di blogs ini.

Waktu berlalu hari berganti dan tahun bertambah hingga pada akhirnya Nathan, anak yang kami kasihi dipanggil untuk menghadap Bapa yang memberi Nathan bagi kami. Sebelum Nathan pergi dia merasakan betapa sakit yang dia rasakan, hampir 1 bulan berlalu dalam kesakitannya. Pada puncaknya ketika Nathan berada di NICU, tak ada berupa gambar yang saya ambil karena hati tak mampu melihat Nathan yang begitu cerianya dalam keseharian dipasang begitu banyak alat kesehatan. Dan hancur rasanya saat tanggal 24 May 2013 pukul 00:45 Nathan pergi untuk menhadap Bapanya untuk selamanya. Dari kecil Nathan diciptakan Tuhan dengan kondisi “orang memandang sebelah mata”, dan ketika harus pergi dia tetap merasakan sakit yang begitu mendalam.

 

Teringat akan Kristus yang adalah Allah namun mau menjadi manusia dan diam diantara manusia. Dia merasakan hidup seperti manusia juga penderitaan seperti manusia dan pada saat derita Kristus sendiri merasakan hal yang berat di Taman Getsemani ….“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).
Yesus Kristus yang adalah Allah yang menciptakan lagit dan bumi dapat dengan mudahnya untuk mengucapkan “Ya.. Kamu manusia yang baik… kamu diselamatkan!! ” tanpa harus datang kedunia namun yang dilakukan Kristus sendiri menunjukkan besar-Nya kasih sayang & cinta-Nya sampai Dia sendiri merasakan apa yang dirasakan manusia dan taat sampai pada kematian tragis-Nya dikayu salib demi manusia. Bukankan itu sesuatu yg lebih besar dibandingkan hanya memfirmankannya?   Saya percaya bahwa setiap manusia yang berkenan dihadapan-Nya harus memikul salib-Nya pada saat berada didunia, dan mendapatkan kemuliaan-Nya saat bersama dalam kerajaan-Nya.

Damai sejahtera dalam kasih Allah Bapa yang menguatkan kita, saya bersyukur atas segala yang Tuhan sudah nyatakan dalam hidup saya. Kesedihan & air mata adalah alat yang digunakan Tuhan bagi saya untuk menyatakan kehendak-Nya.

 

Terima Kasih

Tagged as: , , ,

Leave a Response